Pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo dan Basuki
Tjahaja Purnama berhasil mengantongi 1.847.157 suara atau setara dengan 42,60
persen dari seluruh jumlah pemilih dalam Pemilukada DKI Jakarta tahun 2012.
Pasangan calon gubernur yang tidak berasal dari DKI Jakarta ini berhasil
mengalahkan pasangan incumbent yaitu
Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli sebanyak 8,55 persen suara. Hasil dari Pemilukada
DKI Jakarta tersebut membuat dua pasangan ini harus kembali berlaga di putaran
kedua Pemilukada DKI Jakarta yang akan diselenggarakan pada tanggal 20
September 2012.
Berbagai isu politik pun bergulir di berbagai media di
Indonesia. Dimulai dari isu kampanye yang berbau SARA hingga isu bahwa teror
yang terjadi di Kota Solo memiliki latar belakang politik. Saat ini pun,
menjelang pelaksanaan pemilukada DKI Jakarta putaran kedua, media makin sering
mengabarkan strategi-strategi kampanye politik mereka yang berbeda dari
kampanye-kampanye politik pada umumnya.
Di awal pemilukada DKI Jakarta putaran pertama, Jokowi
membuat sebuah tren berbusana baru dengan kemeja kotak-kotaknya. Sejak saat
itu, hampir setiap orang yang memakai baju kotak-kotak diidentikan dengan
Jokowi. Strategi kampanye dengan menggunakan baju bermotif kotak-kotak ini
cukup menarik karena motif kotak-kotak bukanlah motif yang asing, bandingkan
saja dengan motif batik yang indah namun sulit dihafalkan bagi beberapa
golongan masyarakat. Motif kotak-kotak
dapat didapatkan dimana saja, proses produksinya pun tidak serumit
kaos-kaos atribut kampanye yang harus disablon ataupun dibordir. Asalkan ada
kain motif kotak-kotak serupa, maka menjadikannya sebuah kemeja bukanlah hal
yang sulit bagi para pengusaha konveksi.Produksi baju bermotif kotak-kotak ala
Jokowi pun dengan mudah dapat ditemukan di kios-kios yang menjual atribut
kampanye di Jakarta, di kawasan Pasar Senen misalnya, kemeja motif kotak-kotak
ala Jokowi banyak dijual layaknya baju seragam sekolah.
Di putaran yang kedua ini, Jokowi pun kembali mengeluarkan
strategi-strategi kampanye yang dapat dikatakan sebagai strategi yang out of the box. Salah satunya adalah
peluncuran game yang dibuat oleh tim
kampanye Jokowi. Game yang berkonsep
mirip dengan Game Angry Birds ini
dapat dikatakan cukup menarik perhatian publik khususnya anak muda.
Di dalam Game ini,
kita diharuskan mengarahkan lemparan tomat yang akan dilemparkan Jokowi kepada
sasaran. Sasaran yang dimaksud pun beragam, mulai dari pejabat pemerintahan
yang mungkin di sini dimaksudkan sebagai pejabat pemerintah yang ‘nakal’ sampai
pada sampah-sampah yang berserakan. Game
ini memiliki 70 level, di setiap pergantian level-nya ditampilkan gambar atau
pesan-pesan yang mengutarakan keunggulan atau janji-janji Jokowi. Walaupun menampilkan pesan-pesan politik di
setiap pergantian game, pesan-pesan
tersebut nampak begitu menarik setelah kita berhasil menamatkan satu level
tertentu yang tingkat kesulitannnya memang sudah cukup sulit di level-level
awal. Kepuasan akan keberhasilan menyelsaikan satu level diimbangi dengan
pesan-pesan politik Jokowi yang secara tidak langsung mensugesti orang-orang
yang memainkan game ini.
Beberapa waktu kemudian, lawan tanding Jokowi di Pemilukada
DKI Jakarta putaran kedua, Fauzi Bowo atau yang biasa disebut dengan sebutan
Foke, ikut meramaikan jagat game
Indonesia dengan meluncurkan game yang
berjudul ‘Bersatu Jakarta’. Game ini
menampilkan tiga program unggulan yang rencananya akan dilaksanakan oleh Foke
jika ia berkesempatan untuk menjadi gubernur DKI Jakarta untuk yang kedua
kalinya yaitu Mass Rapid Transit
(MRT), Wajib Belajar gratis 12 tahun, dan Banjir Kanal Timur.
Dari sisi permainan, game
ini tidak terlalu menarik. Pada bagian MRT, kita diharuskan memindahkan
orng-orang yang mengantri untuk menaiki kereta MRT. Saat memindahkan penumpang
ke dalam MRT, komputer juga memindahkan anrian penumpang lain yang akan menaiki
kereta jenis lain padahal untuk memindahkan penumpang-penumpang itu ke MRT
pemain game harus menunggu sekitar
satu sampai dua detik ketika akan memindahkan penumpang lainnya sedangkan komputer
terus memindahkan penumpang-penumpang ke kereta jenis lain. Hasilnya, pemain
lebih sering kalah dan memilih untuk menghentikan permainan saja karena
operasionalnya pun tidak terlalu mudah.
elemen ke 5 (kelima) dari Marketing Politik adalah”Presentation”
adalah bagaimana membungkus dengan baik ketiga elemen diatas (produk,
person, party) ini disajikan dengan bungkusan semenarik mungkin, presentation sangat
penting karena dapat mempengaruhi makna politis yang membentuk dalam pemikiran
para pemilih. Presentation
disajikan dengan medium presentation secara umum dapat dikelompokkan menjadi
objek fisik, orang dan even.(Adman Nursal,2004)
Jadi, dalam hal pembuatan game ini, Jokowi telah berhasil membungkus
produk politiknya dengan bungkus yang tepat. Jokowi pun telah menjalankan
strategi kampanye dengan sasaran anak-anak muda yang secara tidak langsung
menyumbang cukup banyak suara baginya. Jika dibandingkan dengan kemasan produk
politik Foke yang terkesan cukup kaku, Jokowi berhasil mengemasnya dengan jalan
yang cukup menarik sehingga membuatnya menang dalam pertarungan antar game calon gubernur ini. Selanjutnya, mari kita
lihat siapa yang akan benar-benar merebut lebih banyak suara warga Jakarta
dalam game Pemilukada DKI
Jakarta putaran kedua yang sesungguhnya,apakah Jokowi atau Foke?
Referensi :
http://megapolitan.kompas.com,
Tak Mau Kalah dari Jokowi, Foke Luncurkan Game
"Bersatu Jakarta",2012
http://ciricara.com,
Pilkada DKI:
Warga Betawi Banjir “Ancaman”,2012
No comments:
Post a Comment