Sekilas, bangunan
gedung Lokananta hanya nampak sebagai gedung tua yang tak dapat diperkirakan
apa yang ada di dalamnya. Papan penunjuk bertuliskan “Lokananta” beserta
kata-kata yang menerangkan bahwa tempat itu adalah sebuah perusahaan rekaman
lah yang kemudian menjadi penjelas identitas gedung itu. Namun, sebuah papan
lain yang ada di bawahnya membawa kerancuan, papan itu bertuliskan “Lokananta
Futsal”. Sebuah studio rekaman dan sebuah lapangan futsal adalah kombinasi yang
cukup janggal.
Bagian
dalam bangunan Lokananta pun tak ubahnya dengan pemandangan yang tampak dari
luar. Sebuah gedung tua dengan arsitektur yang tidak dapat disebut modern. Sebuah
bangunan yang nampak tak terlalu banyak mendapatkan sentuhan manusia. Sebidang
tanah yang berada di depan ruang rekaman terlihat ditumbuhi rumput yang
meninggi.
Di
dalam sebuah ruangan besar yang disebut sebagai ruang rekaman seluruh rombongan
digiring masuk. Fendi Ariadi, kepala Lokananta, kemudian memperkenalkan satu
per satu karyawan di dalam ruang rekaman yang diresmikan pada tahun 1985 oleh
menteri penerangan saat itu, Harmoko. Sebuah ironi kemudian terlihat ketika
Fendi menjelaskan jabatan masing-masing karyawan. Titik Sugiyanti yang sudah
belasan tahun bekerja di Lokananta diperkenalkan sebagai seorang karyawan yang
memiliki multi jabatan, humas, akuntan, keskretariatan, dan jabatan lainnya. Hal
tersebut merupakam tanda bahwa perusahaan rekaman ini tidak memiliki banyak
tenaga untuk menghidupinya.
Lokananta
adalah sebuah perusahaan rekaman milik pemerintah yang didirikan pada tahun
1956. Pada masa itu, Lokananta berada pada puncak kejayaan sebagai satu-satunya
perusahaan rekaman di Indonesia. Hampir seluruh musisi Indonesia era itu
melahirkan albumnya dari perusahaan rekaman ini. Nama-nama seperti Gesang,
Waldjinah, dan Titik Puspa adalah sebagian dari deretan musisi yang pernah
melahirkan karyanya di perusahaan rekaman ini. Melalui Lokananta, industri
musik Indonesia mulai menggeliat. Musisi-musisi keroncong, campur sari, dan
musik daerah lainnya bermunculan dari sini.
Seiring
dengan menjamurnya perusahaan rekaman milik swasta di Indonesia, keberadaan
Lokananta menjadi semakin pudar. Kurangnya sentuhan teknologi dan semakin
kerasnya gempuran perusahaan rekaman ibukota membuat perusahaan milik negara
yang bernaung di bawah badan penerangan nasional itu semakin lama tak bisa bertahan.
Hingga akhirnya pada tahun 2001 Lokananta dinyatakan pailit. “Pada waktu itu,
selama enam bulan kami hanya dibayar sebungkus nasi untuk makan siang setiap
harinya,” ungkap Titik, salah satu karyawan yang tetap bertahan di Lokananta
saat itu.
“Saat
ini Lokananta berada pada tahap konsolidasi,” terang Fendi. Tahap konsolidasi
ini dapat diartikan sebagai tahap pemulihan Lokananta pasca pailit dan
berpindah dari naungan badan penerangan nasional kepada Perum Percetakan Negara
Republik Indonesia (Perum PNRI). Saat ini, lokananta tetap memasarkan kaset dan
kepingan CD rekaman dari arsip-arsipnya untuk dapat terus bertahan. Lapangan futsal yang menjadi bagian gedung
itu adalah cara lain agar aliran dana tetap mengalir ke perusahaan ini. “kami
juga menyewakan halaman Lokananta untuk dijadikan warung makan,” terang Fendi.
Di
gedung utama Lokananta terdapat ruangan yang berisi ribuan arsip piringan hitam
milik Lokananta. “Biasanya yang beli ke sini kolektor-kolektor,” ujar Titik. Di
salah satu rak, terpajang piringan hitam berisi rekaman lagu Indonesia Raya
yang terdiri dari tiga stanza. Di sampingnya terpajang pula album-album
piringan hitam dari band-band tahun 60an dan Pangkur Jenggleng yang
dipopulerkan oleh Basiyo. Di ruang lainnya, tersimpan tune table dan perangkat rekaman kuno. “kami sedang mengusahakan
Lokananta sebagai museum musik Indonesia,” papar Fendi.
Saat
kepopulerannya memudar, Lokananta tidak berhenti memberi kontribusinya untuk
Indonesia. Perusahaan rekaman ini menunjukkan perannya bagi dunia musik
Indonesia saat kasus klaim lagu “Rasa Sayange” yang dilakukan Malaysia mencuat.
Melalui arsipnya, Lokananta membuktikan bahwa lagu “Rasa sayange” adalah lagu
daerah milik Indonesia yang berasal dari Maluku.
Akhir-akhir
ini Lokananta mulai mendapat perhatian publik. Media massa mulai memuat
keberadaan Lokananta. Beberapa waktu lalu sebuah stasiun televisi swasta
membuat sebuah acara tribut untuk Lokananta yang diisi oleh artis-artis
Lokananta. Perhatian media yang begitu besar juga membuat musisi-musisi
Indonesia tertarik untuk merekam lagunya di Lokananta. Glenn Fredly, White
Shoes and The Couples Company, Efek rumah Kaca, dan musisi masa kini lainnya
merekam single atau albumnya di
Lokananta. Lokananta mencoba
menghadirkan citra baru dengan melayani musisi-musisi muda itu. “Imej Lokananta
dari jaman dulu gamelan dan keroncong,” cetus Andi, salah seorang karyawan yang
juga mengurus proses rekaman sambil berkelakar, “Mungkin Megadeath mau saya
undang ke sini.” Andi juga menjelaskan bahwa sistem dan alat-alat rekaman yang
ada di studio Lokananta berkelas dunia, “kita recording-nya beda, jadi kita modelnya live, kita sediakan 24 track”.
Menurutnya, Lokananta tak jauh berbeda dari Abbey Road, tempat rekaman pertama
The Beattles.
Produk
album Lokananta memiliki ciri khas tersendiri dalam hal desain sampul. Hampir
semua desain album keluaran Lokananta memiliki ciri khas yang sama dan hingga
kini tidaklah berubah. “Kami mempertahankan desain itu sebagai ciri khas
Lokananta,” ungkap Fendi. Proses pencetakan cover album dan re-mastering pun
nampak begitu sederhana terlihat dari ruangan produksinya. Beberapa printer
berjajar untuk mencetak sampul dan sebuah komputer untuk mastering lagu-lagu
yang sudah terekam tidak terlihat se-modern perusahaan-perusahaan rekaman
swasta. Meskipun begitu, Lokananta dan orang-orang yang ada di dalamnya masih
akan terus bertahan dan bergerak membawa Lokananta kembali ke dunia Industri
musik Indonesia.
Sejarah
lain tersimpan di sudut kota Solo. Sebuah bangunan yang nampak kokoh berlapis
batu hitam yang terletak di Jalan Gadjah Mada itu menyimpan tumpukan kisah
bangsa Indonesia lewat koleksi produk persnya. Monumen Pers Nasional adalah
sebuah gedung yang dikelola Kementrian Komunikasi dan Informatika.
Di dalam monumen pers
nasional terdapat beragam peninggalan yang mengambarkan perkembangan pers
Indonesia. Tersimpan sebuah alat pemancar radio milik RRI yang disebut sebagai
pemancar radio kambing. Alat itu diselamatkan dari gedung RRI yang diserang leh
jepang dan disembunyikan di kandang kambing sehingga mendapat tambahan nama
“kambing” . Koran-koran yang terbit dalam bahasa belanda terpajang dalam kotak
kaca. Museum ini memiliki setidaknya ribuan koran, majalah, dan buku yang
terbit sejak tahun 1940 hinga saat ini. Sebuah perpustakaan juga berada di
lantai dua gedung museum ini. Monumen Pers nasional setidaknya dapat menjadi
sebuah kumpulan kisah yang terus bertambah seiring dengan diterbitkannya koran,
majalah, dan buku setiap harinya.
Referensi
Purwoaji, Ayos dan Zakaria, Fakhri.
2012. LOKANANTA: Menyelamatkan Musik Indonesia. Rolling Stone 27 Oktober 2012
diakses dari http://rollingstone.co.id/read/2012/10/27/145255/2073969/1100/lokananta-menyelamatkan-musik-indonesia tanggal 5 Mei
2012.
*ditulis sebagai laporan perjalanan praktikum mata kuliah sejarah ilmu komunikasi dan media