Tuesday, May 7, 2013

Abbey Road Indonesia dan Jejak Pers di Solo


 Sekilas, bangunan gedung Lokananta hanya nampak sebagai gedung tua yang tak dapat diperkirakan apa yang ada di dalamnya. Papan penunjuk bertuliskan “Lokananta” beserta kata-kata yang menerangkan bahwa tempat itu adalah sebuah perusahaan rekaman lah yang kemudian menjadi penjelas identitas gedung itu. Namun, sebuah papan lain yang ada di bawahnya membawa kerancuan, papan itu bertuliskan “Lokananta Futsal”. Sebuah studio rekaman dan sebuah lapangan futsal adalah kombinasi yang cukup janggal.
            Bagian dalam bangunan Lokananta pun tak ubahnya dengan pemandangan yang tampak dari luar. Sebuah gedung tua dengan arsitektur yang tidak dapat disebut modern. Sebuah bangunan yang nampak tak terlalu banyak mendapatkan sentuhan manusia. Sebidang tanah yang berada di depan ruang rekaman terlihat ditumbuhi rumput yang meninggi.
            Di dalam sebuah ruangan besar yang disebut sebagai ruang rekaman seluruh rombongan digiring masuk. Fendi Ariadi, kepala Lokananta, kemudian memperkenalkan satu per satu karyawan di dalam ruang rekaman yang diresmikan pada tahun 1985 oleh menteri penerangan saat itu, Harmoko. Sebuah ironi kemudian terlihat ketika Fendi menjelaskan jabatan masing-masing karyawan. Titik Sugiyanti yang sudah belasan tahun bekerja di Lokananta diperkenalkan sebagai seorang karyawan yang memiliki multi jabatan, humas, akuntan, keskretariatan, dan jabatan lainnya. Hal tersebut merupakam tanda bahwa perusahaan rekaman ini tidak memiliki banyak tenaga untuk menghidupinya.
            Lokananta adalah sebuah perusahaan rekaman milik pemerintah yang didirikan pada tahun 1956. Pada masa itu, Lokananta berada pada puncak kejayaan sebagai satu-satunya perusahaan rekaman di Indonesia. Hampir seluruh musisi Indonesia era itu melahirkan albumnya dari perusahaan rekaman ini. Nama-nama seperti Gesang, Waldjinah, dan Titik Puspa adalah sebagian dari deretan musisi yang pernah melahirkan karyanya di perusahaan rekaman ini. Melalui Lokananta, industri musik Indonesia mulai menggeliat. Musisi-musisi keroncong, campur sari, dan musik daerah lainnya bermunculan dari sini.
            Seiring dengan menjamurnya perusahaan rekaman milik swasta di Indonesia, keberadaan Lokananta menjadi semakin pudar. Kurangnya sentuhan teknologi dan semakin kerasnya gempuran perusahaan rekaman ibukota membuat perusahaan milik negara yang bernaung di bawah badan penerangan nasional itu semakin lama tak bisa bertahan. Hingga akhirnya pada tahun 2001 Lokananta dinyatakan pailit. “Pada waktu itu, selama enam bulan kami hanya dibayar sebungkus nasi untuk makan siang setiap harinya,” ungkap Titik, salah satu karyawan yang tetap bertahan di Lokananta saat itu.
            “Saat ini Lokananta berada pada tahap konsolidasi,” terang Fendi. Tahap konsolidasi ini dapat diartikan sebagai tahap pemulihan Lokananta pasca pailit dan berpindah dari naungan badan penerangan nasional kepada Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI). Saat ini, lokananta tetap memasarkan kaset dan kepingan CD rekaman dari arsip-arsipnya untuk dapat terus bertahan.  Lapangan futsal yang menjadi bagian gedung itu adalah cara lain agar aliran dana tetap mengalir ke perusahaan ini. “kami juga menyewakan halaman Lokananta untuk dijadikan warung makan,” terang Fendi.
            Di gedung utama Lokananta terdapat ruangan yang berisi ribuan arsip piringan hitam milik Lokananta. “Biasanya yang beli ke sini kolektor-kolektor,” ujar Titik. Di salah satu rak, terpajang piringan hitam berisi rekaman lagu Indonesia Raya yang terdiri dari tiga stanza. Di sampingnya terpajang pula album-album piringan hitam dari band-band tahun 60an dan Pangkur Jenggleng yang dipopulerkan oleh Basiyo. Di ruang lainnya, tersimpan tune table dan perangkat rekaman kuno. “kami sedang mengusahakan Lokananta sebagai museum musik Indonesia,” papar Fendi.
            Saat kepopulerannya memudar, Lokananta tidak berhenti memberi kontribusinya untuk Indonesia. Perusahaan rekaman ini menunjukkan perannya bagi dunia musik Indonesia saat kasus klaim lagu “Rasa Sayange” yang dilakukan Malaysia mencuat. Melalui arsipnya, Lokananta membuktikan bahwa lagu “Rasa sayange” adalah lagu daerah milik Indonesia yang berasal dari Maluku.
            Akhir-akhir ini Lokananta mulai mendapat perhatian publik. Media massa mulai memuat keberadaan Lokananta. Beberapa waktu lalu sebuah stasiun televisi swasta membuat sebuah acara tribut untuk Lokananta yang diisi oleh artis-artis Lokananta. Perhatian media yang begitu besar juga membuat musisi-musisi Indonesia tertarik untuk merekam lagunya di Lokananta. Glenn Fredly, White Shoes and The Couples Company, Efek rumah Kaca, dan musisi masa kini lainnya merekam single atau albumnya di Lokananta.  Lokananta mencoba menghadirkan citra baru dengan melayani musisi-musisi muda itu. “Imej Lokananta dari jaman dulu gamelan dan keroncong,” cetus Andi, salah seorang karyawan yang juga mengurus proses rekaman sambil berkelakar, “Mungkin Megadeath mau saya undang ke sini.” Andi juga menjelaskan bahwa sistem dan alat-alat rekaman yang ada di studio Lokananta berkelas dunia, “kita recording-nya beda, jadi kita modelnya live, kita sediakan 24 track”. Menurutnya, Lokananta tak jauh berbeda dari Abbey Road, tempat rekaman pertama The Beattles.
            Produk album Lokananta memiliki ciri khas tersendiri dalam hal desain sampul. Hampir semua desain album keluaran Lokananta memiliki ciri khas yang sama dan hingga kini tidaklah berubah. “Kami mempertahankan desain itu sebagai ciri khas Lokananta,” ungkap Fendi. Proses pencetakan cover album dan re-mastering pun nampak begitu sederhana terlihat dari ruangan produksinya. Beberapa printer berjajar untuk mencetak sampul dan sebuah komputer untuk mastering lagu-lagu yang sudah terekam tidak terlihat se-modern perusahaan-perusahaan rekaman swasta. Meskipun begitu, Lokananta dan orang-orang yang ada di dalamnya masih akan terus bertahan dan bergerak membawa Lokananta kembali ke dunia Industri musik Indonesia.
            Sejarah lain tersimpan di sudut kota Solo. Sebuah bangunan yang nampak kokoh berlapis batu hitam yang terletak di Jalan Gadjah Mada itu menyimpan tumpukan kisah bangsa Indonesia lewat koleksi produk persnya. Monumen Pers Nasional adalah sebuah gedung yang dikelola Kementrian Komunikasi dan Informatika.
Di dalam monumen pers nasional terdapat beragam peninggalan yang mengambarkan perkembangan pers Indonesia. Tersimpan sebuah alat pemancar radio milik RRI yang disebut sebagai pemancar radio kambing. Alat itu diselamatkan dari gedung RRI yang diserang leh jepang dan disembunyikan di kandang kambing sehingga mendapat tambahan nama “kambing” . Koran-koran yang terbit dalam bahasa belanda terpajang dalam kotak kaca. Museum ini memiliki setidaknya ribuan koran, majalah, dan buku yang terbit sejak tahun 1940 hinga saat ini. Sebuah perpustakaan juga berada di lantai dua gedung museum ini. Monumen Pers nasional setidaknya dapat menjadi sebuah kumpulan kisah yang terus bertambah seiring dengan diterbitkannya koran, majalah, dan buku setiap harinya.

Referensi
Purwoaji, Ayos dan Zakaria, Fakhri. 2012. LOKANANTA: Menyelamatkan Musik Indonesia. Rolling Stone 27 Oktober 2012 diakses dari http://rollingstone.co.id/read/2012/10/27/145255/2073969/1100/lokananta-menyelamatkan-musik-indonesia tanggal 5 Mei 2012.

 *ditulis sebagai laporan perjalanan praktikum mata kuliah sejarah ilmu komunikasi dan media