Demam jejaring social dimulai sejak
makin dikenalnya situs jejaring sosial Friendster. Friendster yang mulai
diluncurkan pada tahun 2002 tersebut tercatat memiliki pengguna yang sebagian
berasal dari Asia yakni sebanyak sembilan puluh juta pengguna atau mencapai
sembilan puluh persen dari seluruh pengguna Friendster. Pada tahun 2003 situs
jejaring My Space muncul. Setelah itu beragam situs jejaring lainnya pun mulai
bermunculan seperti Tribe,Netlog,Tagged,dan lain lain. Puncaknya ketika seorang
pemuda bernama Mark Zuckerberg meluncurkan situs jejaring sosialnya yang sampai
saat ini menjadi jejaring sosial dengan jumlah pengguna terbesar yaitu Facebook.
Fenomena jejaring sosial tersebut dilengkapi oleh situs Twitter yang juga
disebut sebagai microblog.
Seperti yang banyak orang ketahui,
jejaring sosial tersebut menyediakan berbagai fasilitas yang membuat para
penggunanya tersambung pada dunia. Para
pengguna dapat memberitahu pada seluruh dunia tentang apa yang sedang mereka
rasakan atau lakukan saat ini dengan cara mengetik status mereka di Facebook
misalnya. Mereka juga dapat mencantumkan identas-identitas dasar mereka seperti
tanggal lahir, nomor telepon seluler, hobi, film kesukaan, dan hal-hal lainnya.
Bahkan situs jejaring sosial Foursquare.com hanya digunakan untuk meng-update
tentang keberadaan para penggunanya.
Di masa yang penuh dengan
keterbukaan seperti sekarang ini, semua orang bebas mengekspresikan isi
pikiran, isi hati, dan segala yang sifatnya pribadi di jejaring sosial. Kini
para pengguna jejaring sosial sudah
tidak perlu lagi mencatat tanggal ulang tahun teman-temannya, rajin membuka
Facebook setiap hari pun akan mengingatkan mereka untuk mengucapakan selamat
ulang tahun. Kabar bahwa seorang teman sudah menjalin hubungan dengan
kekasihnya pun dapat kita ketahui secepatnya, bahkan satu menit ketika salah
satu dari mereka menyatakan cinta. Mencetak foto pun menjadi salah satu hal
yang jarang dilakukan karena kini para pengguna jejaring sosal hanya perlu
mengunggah fotonya di Facebook dan menandainya di akun Facebook teman-temannya
sehingga semua orang dapat dengan mudah memiliki foto tersebut tanpa harus
beranjak dari tempatnya.
Jejaring sosial menjadi salah satu
sumber informasi untuk mengetahui berbagai hal mulai dari berita-berita terkini
sampai dengan kegiatan-kegiatan pribadi seseorang. Istilah kepo pun kini
semakin marak terdengar di telinga khususnya anak-anak muda. Tidak diketahui
dari mana kata ini berasal. Kata kepo ini berarti banyak ingin tahu. Orang yang
disebut kepo adalah orang yang suka menggali-gali informasi tentang orang lain
baik secara langsung maupun tidak langsung. Kepo ini dapat diistilahkan sebagai
menguntit di dunia maya. Mencari-cari informasi lewat jejaring sosial dapat
dikategorikan sebagai kepo tidak langsung.
Kini melakukan tatap muka sudah
bukan lagi menjadi hal yang wajib ketika seseorang ingin mengenal orang lain
lebih jauh. Orang tersebut hanya perlu mengetikan nama orang yang akan dicari
di kotak pencarian yang terdapat di situs jejaring sosial. Ketika nama yang
dicari sulit muncul di salah satu jejaring sosial maka hal terakhir yang bisa
dilakukan adalah menegtikkan nama orang tersebut di mesin pencari yang sudah
sangat akrab dengan para pengguna internet, Google. Kurang dari satu detik maka
hampir semua akun jejaring sosial dan semua aktivitas yang dilakukan orang
tersebut di internet dapat muncul dengan lengkap. Akun Twitter, Facebook, blog,
bahkan kadang-kadang nilai ulangan atau ujian orang tersebut dapat muncul
dengan mudahnya di laman pencarian Google. Maka hal yang disebut kepo itu
adalah suatu hal yang jamak dilakukan oleh para pengguna internet di masa ini.
Salah satu contoh, setelah hasil
Seleksi Nasional Perguruan Tinggi Negeri diumumkan hampir semua mahasiswa baru
dapat mengenal teman-teman barunya hanya melalui jejaring sosial seperti Facebook
ataupun Twitter. Akun-akun grup di Facebook pun mulai bermunculan, mulai dari
grup fakultas, jurusan, hingga kelompok. Mahasiswa baru hanya perlu tahu nama
orang-orang yang diterima di universitas atau fakultas yang sama kemudian mengetikannya
di kotak pencarian maka pertemanan pun akan terjalin. Mengobrol bahkan
menghakimi seseorang sebelum bertemu secara langsung adalah suatu hal yang
biasa di masa ini.
Segala hal yang ingin diketahui
dari orang lain dapat didapatkan dari akun jejaring sosial orang tersebut. Pada
suatu waktu saya pernah memantau aktivitas seseorang di jejaring sosial. Saya
belum pernah bertemu dengan orang itu, kami hanya pernah beberapa kali
berinteraksi melalui twitter karena kebetulan dia melihat saya di sebuah acara.
Saya benar-benar tidak mengenalnya, namun saya memantau terus kegiatannya di
dunia maya hingga akhirnya saya menyadari bahwa saya mengetahui beberapa hal
yang seharusnya tidak diketahui orang asing seperti saya. Saya tentu saja tahu
bulan apa dia berulang tahun, saya tahu di mana dia berkuliah, saya tahu nama
panjangnya, saya tahu apa yang terjadi dengan ban sepedanya, saya tahu apa yang
sedang dia kerjakan di jam-jam tertentu bahkan ketika dia tidak melakukan
update apapun di jejaring sosial karena saya sudah menghafal ritme kegiatannya.
Ketika pada suatu hari saya tidak sengaja bertemu dengan orang tersebut di
jalan karena saya sudah terlalu hafal dengan wajahnya di jejaring sosial,saya
dapat menebak kemana ia akan mengayuh sepedanya, saya dapat menebak bahwa dia
akan online sebentar lagi dan melakukan update di jejaring sosialnya. Tebakan
saya benar, beberapa detik kemudian dia meng-update sesuatu di twitternya,
semua tebakan saya benar padahal saya tidak menyapanya sama sekali.
Jadi, di masa-masa informasi begitu mudah didapatkan seperti
ini, privasi semakin sulit didapatkan walaupun orang tersebut bukanlah seorang
artis sekalipun. Terkadang secara tidak sengaja hal-hal yang tidak terlalu
penting diketahui public dapat terlihat walaupun pengguna jejaring sosial tersebut tidak
berniat untuk mengatakannya. Keamanan dan privasi hanya bisa didapatkan ketika
jejaring sosial digunakan sewajarnya, ketika setiap pengguna jejaring sosial
dapat mengontrol dan memilah hal apa yang seharusnya dapat diketahui publik
atau tidak diketahui publik.
Referensi :
Diunduh dari http://www.oppapers.com/essays/A-Short-History-Of-Social-Media/9685 ”A History of Social Media" pada 22 September 2012 pukul 18:37
Bridging Course #05